Langsung ke konten utama

Mereka bilang kita cocok. Temanku bilang kita serasi. Tapi, cocok bukan sekedar apa yang terlihat dari fisik saja bukan? Itu katamu. Aku disini juga berusaha berlari. Berlari dari perkataan mereka yang sempat juga membuatku melayang terlalu jauh. Melayang menuju angan tentangmu. Angan. Iya. Hanya sebatas angan di atas awan. Tapi sebanyak aku berlari, sebanyak itu pula mereka mengejarku. Perasaan itu. Mereka menghantui aku dengan perasaan ini. Dimana katamu harusnya bisa dinikmati. Tentu, aku menikmati ini. Rasaku padamu yang entah sejak kapan memenuhi aliran darahku. Memenuhi sebagian besar pikiranku. Mengambil alih lahan khayalku. Apa kamu tahu itu? Setiap detik. Setiap menit. Setiap jam. Setiap hariku. Dimana ada kamu disana. Berdiri jauh disana. Sulit untukku gapai. Senyum salam sapa ramahmu. Pertemanan kita. Peran yang aku jalani dihadapanmu. Apa kamu tahu? Apa kamu menyadarinya? Rasa ini lebih dari itu. Meletup kuat didalam dadaku. Membengkak. Seakan jika kau, benar adanya, menyentuhnya, walau sedikit saja. Akan meledak. Mengaga. Meluapkan isi yang ada. Tapi jika tak juga kau sentuh, atau sekedar meliriknya. Akan kupaksa untuk mengempis. Kupaksa untuk hilang. Kuhancurkan. Agar semua ini tak mengganggu hidupmu. Seperti yang kau selalu bilang.

Komentar

  1. asih dah. post nya sedap nih.
    baris 13, kata ke-5. mungkin maksudnya "menganga" ?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terakhir deh ini (ruwet banget isi kepala w)

Ternyata cerita kita ini sampai pada akhirnya juga ya.  Walaupun bukan akhir seperti yang kita rencanakan di awal, tapi semoga sudah sesuai dengan yang kamu inginkan.  Sesuai kata-kata pisahmu waktu itu, yang tidak memberi aku pilihan jawaban, buat aku harus mengiyakan.  Sampai hari ini aku masih bertanya-tanya, ini salah siapa ya? Semua ini bisa saja memang benar salahmu, atau salahku? Atau salah kita? Iya, salahmu. Kamu yang bilang sendiri, ingin semua ini jadi serius.  Aku bilang, kita coba dulu pacaran, kenal juga baru kan?  Kamu yang bilang sendiri, oh sudah siap, sudah yakin sekali pokoknya dengan alasan ini itu. Kamu tahu kan, aku si hobi banyak mikir ini tidak semudah itu bisa percaya.  Tapi, kamu mulai cerita tentang hidupmu yang katamu ini belum banyak yang tahu.  Kamu yang bilang sendiri, kalau aku bisa terima itu semua, kita bisa lanjutkan cerita.  Kamu tahu kan aku bisa terima? Jujur saja sejak itu aku pikir, oh mungkin kali ini bena...

RASA by Nuril Basri (Nyoba Review)

  Aku merasa seperti seorang gadis tua. Seorang gadis berumur 29 tahun yang tidak mengerti apa pun tentang dirinya yang tidak tahu apa yang diinginkannya dalam hidup ini. Aku sebuah bola besar yang menggelinding kebingungan. * Buku ini aku dapat dari giveaway  yang penulisnya buat di twitter tahun 2019. Jujur (dan sorry) aku sebenarnya tidak pernah tahu Nuril Basri. Memang pengetahuanku akan penulis juga kurang, karena buatku membaca seringnya hanya tentang cerita dan isinya. Jadi, seharusnya sih review ini terlihat cukup jujur. Pada cover buku ini tercantum kutipan menarik dari British Council " One of five Indonesian authors to read now " yang agak meningkatkan ekspektasiku. Ditambah lagi, tercantum juga bahwa beberapa karya dari penulis ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Malaysia dan Inggris, membuatku tambah penasaran. Di tahun 2019, setelah membaca halaman-halaman awal, aku merasa kurang motivasi untuk melanjutkan. Aku merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal, tap...

dua-lima

Tiba dimasa hidup bukan lagi tentang angka-angka di atas kertas. Bukan tentang siapa yang menang dari siapa, Tapi menyadari bahwa adanya makna, Pada setiap langkah dipijak, Pada setiap jalan dipilih. Merasa tercekat saat ditinggal orang-orang dekat. Sadari hidup sudah berputar pada porosnya masing-masing. Kesamaan tinggalah wacana basi di tahun-tahun lalu. Kamu punya waktumu sendiri, katanya.  Tapi sepi tetaplah sepi. Perasaan sedih seperti tertinggal bis dibelakang, kadang terasa nyata. Tapi, sebagai orang yang "dewasa", semua harus terlihat baik-baik saja. Banyak mimpi lama juga harus diganti realita. Berharap semoga masih ada peluang, barang setitik (.) Tapi semakin lama ternyata semakin hilang. Tanpa arah, terseok merakit mimpi baru yang "semoga" lebih nyata. Yakini, Kamu pasti bisa berdiri sendiri. Orang-orang bisa jadi sedang sibuk dengan dunianya sendiri,  Jadi, tidak akan mengerti kamu lagi. Ketika lelah "mencari", baiknya mungkin mulai "menja...