Waktu kecil aku pikir punya teman itu mudah. Toh, memang saat itu temanku banyak. Hampir tidak pernah aku bermain sendiri, pasti ada saja yang "mengekor" di sampingku atau memanggil-manggil di depan rumah. Aku pikir itu mungkin karena aku yang supel dan asik diajak main.
Tapi,
seiring bertambahnya usia, aku menemukan diriku adalah seorang yang tidak mudah bergaul. Boro-boro supel, di keramaian pun aku sering merasa pusing dan mual. Aku juga menyesal sempat berpikir aku ini "asik", memulai pembicaraan basa-basi pun nyatanya aku kesulitan.
Aku memang lebih banyak diam dan pasif. Walaupun begitu, aku tidak mau menyebut diriku seorang introvert. Lagian, introvert tentunya punya banyak definisi yang belum tentu semuanya menggambarkan aku. Meski, disaat mumet aku memang lebih memilih "me time" daripada bertemu dengan orang-orang.
Kata orang, aku terlalu banyak berpikir. Terlalu panjang berpikir. Terlalu khawatir. Memang, seringnya aku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Pikiran yang membentuk seperti benang kusut yang kadang tidak bisa kutemukan ujung satu dan lainnya. Ujung-ujungnya aku tidak bisa menyampaikan keinginanku dan berakhir kesal sendiri. Kesal pada semesta.
Kata mama, aku harusnya bersyukur karena masih ada orang yang mau berteman meskipun aku begitu rumit seperti ini.
Aku tahu. Aku pun pernah menjauhi beberapa dari mereka. Yang mereka tidak tahu, sebenarnya aku bukan menghindarkan diri dari mereka. Tapi, menghindarkan mereka dari diriku (yang rumit).
Pikiran-pikiran kusut itu selalu ada dalam kepalaku. Aku tahu, menyadarinya, pun mencoba menghapusnya. Tapi, aku salah, karena ia selalu hadir menghantui. Mungkin cara terbaik adalah bukan dengan dihilangkan, tapi dihadapi.
gk-
Komentar
Posting Komentar