Langsung ke konten utama

Pikiran-pikiran rumit

Waktu kecil aku pikir punya teman itu mudah. Toh, memang saat itu temanku banyak. Hampir tidak pernah aku bermain sendiri, pasti ada saja yang "mengekor" di sampingku atau memanggil-manggil di depan rumah. Aku pikir itu mungkin karena aku yang supel dan asik diajak main.

Tapi,
seiring bertambahnya usia, aku menemukan diriku adalah seorang yang tidak mudah bergaul. Boro-boro supel, di keramaian pun aku sering merasa pusing dan mual. Aku juga menyesal sempat berpikir aku ini "asik", memulai pembicaraan basa-basi pun nyatanya aku kesulitan.

Aku memang lebih banyak diam dan pasif. Walaupun begitu, aku tidak mau menyebut diriku seorang introvert. Lagian, introvert tentunya punya banyak definisi yang belum tentu semuanya menggambarkan aku. Meski, disaat mumet aku memang lebih memilih "me time" daripada bertemu dengan orang-orang.

Kata orang, aku terlalu banyak berpikir. Terlalu panjang berpikir. Terlalu khawatir. Memang, seringnya aku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Pikiran yang membentuk seperti benang kusut yang kadang tidak bisa kutemukan ujung satu dan lainnya. Ujung-ujungnya aku tidak bisa menyampaikan keinginanku dan berakhir kesal sendiri. Kesal pada semesta.

Kata mama, aku harusnya bersyukur karena masih ada orang yang mau berteman meskipun aku begitu rumit seperti ini.

Aku tahu. Aku pun pernah menjauhi beberapa dari mereka. Yang mereka tidak tahu, sebenarnya aku bukan menghindarkan diri dari mereka. Tapi, menghindarkan mereka dari diriku (yang rumit).

Pikiran-pikiran kusut itu selalu ada dalam kepalaku. Aku tahu, menyadarinya, pun mencoba menghapusnya. Tapi, aku salah, karena ia selalu hadir menghantui. Mungkin cara terbaik adalah bukan dengan dihilangkan, tapi dihadapi.


gk-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RASA by Nuril Basri (Nyoba Review)

  Aku merasa seperti seorang gadis tua. Seorang gadis berumur 29 tahun yang tidak mengerti apa pun tentang dirinya yang tidak tahu apa yang diinginkannya dalam hidup ini. Aku sebuah bola besar yang menggelinding kebingungan. * Buku ini aku dapat dari giveaway  yang penulisnya buat di twitter tahun 2019. Jujur (dan sorry) aku sebenarnya tidak pernah tahu Nuril Basri. Memang pengetahuanku akan penulis juga kurang, karena buatku membaca seringnya hanya tentang cerita dan isinya. Jadi, seharusnya sih review ini terlihat cukup jujur. Pada cover buku ini tercantum kutipan menarik dari British Council " One of five Indonesian authors to read now " yang agak meningkatkan ekspektasiku. Ditambah lagi, tercantum juga bahwa beberapa karya dari penulis ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Malaysia dan Inggris, membuatku tambah penasaran. Di tahun 2019, setelah membaca halaman-halaman awal, aku merasa kurang motivasi untuk melanjutkan. Aku merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal, tap...

Haunted

Maybe you don’t know, The feeling of rejection, The broken thoughts, The lack ability to defend yourself… will haunt you… Before the important meeting you have to attend or along with the documents you evaluate. Yes, need to take a deep breath to focus on. In the middle of your pilates class. So, you have to take a deeper breath or you’ll be black out. Between your favorite TS’s bridge songs you listen everyday. A deep breath again, cause it should cheer you up. In every steps you take from work to a place you called home. Another deep breath to keep your balance, so you don’t fall in crowd. Even after a main scene of horror movie you try to watch. Pause - a deep breath - play. In all activities you did to distract, they’re always there. They haunted you. They haunted me.

Mengurai pikiran

Hari ini, 10 Mei 2020, di rumah, ditengah pandemik covid-19 Selama dua bulan dirumah aja karena pandemik ini membuat aku lebih banyak berpikir, lebih banyak khawatir. Aku menemukan diri sendiri yang sudah hampir berumur 25 tahun ini masih banyak kekurangan yang tidak bisa ditoleransi lagi. Semakin insecure pada diri sendiri, secara fisik, sifat, bahkan sikap/attitude. Diumur setua ini, aku merasa sulit dalam mengambil keputusan. Bahkan, keputusan kecil seperti membeli barang di e-commerce pun mikirnya bisa berhari-hari. Seringnya juga malah gak jadi. Apalagi masalah jalan hidup. Pusingnya udah kayak mau sidang skripsi setiap hari. Rasanya takut. Takut memulai,  Takut dengan konsekuensi di depan, Takut menghadapi orang, Takut salah. Memang dari kecil sudah dikesankan bahwa "salah" itu gak boleh. Gak bisa ada kesalahan. Salah jawab saat ujian, belajar yang benar, jangan tolol. Itu yang selalu dipikiranku. Walaupun sekarang sudah dijelaskan "salah itu waj...