Langsung ke konten utama

Buat aku di September lainnya

Bulan September memberikan macam-macam titik balik pada diriku.

Bulan dimana aku dilahirkan.
September setiap tahunnya selalu aku sambut dengan suka cita. Aku sambut dengan penuh harapan akan kebahagiaan, dari hadiah sampai kehadiran keluarga dan teman-teman. Sampai lupa bahwa seharusnya menjadi bulan berbenah diri, karena umur yang terus berkurang. Tapi tetap saja, kalimat September Ceria benar-benar aku percaya dari usia dini.

Bulan dimana aku menyelesaikan kewajiban sekolahku.
September 2017, aku diwisuda. Bersama seribuan (mantan) mahasiswa yang katanya siap menghadapi dunia yang sebenarnya, juga para orang tua yang menatap bangga wajah anaknya terpampang di layar besar seperempat aula. September Ceria, aku wisuda tepat waktu dengan gelar cumlaude, semakin aku suka, semakin akan kunanti kedatangannya.

Tapi, hidup memang begitu katanya. Kadang terbang di atas awan, kadang mendarat di tanah bebatuan. Setelah struggling dengan depresiku karena kehidupan setelah sekolah yang tidak jelas, aku diterima di suatu badan pemerintahan. 

Di pertengahan September 2018, aku didiagnosa mengidap suatu penyakit oleh dokter. Sesuatu yang bikin aku menyadari hidup dan mati itu sedekat nadi. Aku gak tahu harus apa selain pura-pura biasa aja, gak boleh nangis, harus percaya semuanya bisa diperbaiki. Sebenernya yang paling bikin sedih itu pas melihat orang tua. Mama yang dimata aku wanita karir yang kuat, cuma bisa nangis aja sambil berdoa. Boro-boro menemani aku cek up ke dokter, masuk rumah sakit aja gak kuat dan takut banget. Juga papa yang biasanya cuek-cuek aja, keliatan panik banget mondar-mandir kesana-kemari mengurusi keperluan rumah sakit aku. Semua ini memang mendadak banget. Tiba-tiba aja.

Tepat satu hari setelah aku berumur 23 tahun, aku dioperasi. Pikiran udah kosong aja, blank, pasrah gak tau harus apa atau harus gimana. Bener-bener baru pertama kali liat ruang operasi, pertama kali dibius, pertama kali juga bangun di tengah operasi, yang dirasain cuma menggigil aja kedinginan kayak di ruangan es. Setelah operasi aku baru tahu kalau itu efek dari obat bius, bikin menggigil sampe sebadan gak berhenti goyang. Selesai operasi, jangan tanya rasanya bekas jahitannya itu kayak apa, luar biasa. Sampai gak berhenti manggil susternya yang aku liat lagi makan bubur. Aku lagi nunggu di ruangan observasi setelah operasi saat itu. Mungkin karena abis subuh banget ya, jadi susternya belom makan. Dia bilang udah dikasih pereda nyeri 3 obat kok Bu, tapi emang sesakit itu. Tapi, kata Mama aku kuat.

Sekarang udah sekitar 7 bulan setelah operasi itu, dan aku merasa sakit lagi di bagian itu. Awalnya mikir, oh mungkin emang luka dalamnya belum kering. Ya semoga, tapi rasanya ingin banget sekarang ke tempat dokter untuk periksa. Aku takut banget kalau harus mengulang masa-masa itu. Walaupun udah diangkat saat operasi kemarin, kemungkinan untuk tumbuh lagi memang cukup besar karena berkaitan dengan hormon di tubuh aku sendiri. Ya jadi selamanya akan begini.

Sekarang aku berpikir, apakah September masih ceria setelah kejadian ini?

Duh, tadinya ingin nulis kata-kata positif dan penyemangat untuk diri ini di masa depan. Tapi, kenapa malah sedih ya hahaha.

Ya sudah, kalau aku di masa depan yang baca ini lagi pusing atau merasa tidak kuat akan sesuatu, harus ingat bahwa hal yang lebih berat ini pernah datang dan aku baik-baik saja. Aku kuat, lebih dari yang aku kira. Harus percaya juga bahwa Allah tidak akan memberikan ujian yang melebihi batas kemampuanmu. Kalau kamu dikasih itu, berarti tandanya kamu mampu melakukan dan melewati itu.

Minta doanya juga, supaya benar bisa kuat.

Terima kasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RASA by Nuril Basri (Nyoba Review)

  Aku merasa seperti seorang gadis tua. Seorang gadis berumur 29 tahun yang tidak mengerti apa pun tentang dirinya yang tidak tahu apa yang diinginkannya dalam hidup ini. Aku sebuah bola besar yang menggelinding kebingungan. * Buku ini aku dapat dari giveaway  yang penulisnya buat di twitter tahun 2019. Jujur (dan sorry) aku sebenarnya tidak pernah tahu Nuril Basri. Memang pengetahuanku akan penulis juga kurang, karena buatku membaca seringnya hanya tentang cerita dan isinya. Jadi, seharusnya sih review ini terlihat cukup jujur. Pada cover buku ini tercantum kutipan menarik dari British Council " One of five Indonesian authors to read now " yang agak meningkatkan ekspektasiku. Ditambah lagi, tercantum juga bahwa beberapa karya dari penulis ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Malaysia dan Inggris, membuatku tambah penasaran. Di tahun 2019, setelah membaca halaman-halaman awal, aku merasa kurang motivasi untuk melanjutkan. Aku merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal, tap...

Terakhir deh ini (ruwet banget isi kepala w)

Ternyata cerita kita ini sampai pada akhirnya juga ya.  Walaupun bukan akhir seperti yang kita rencanakan di awal, tapi semoga sudah sesuai dengan yang kamu inginkan.  Sesuai kata-kata pisahmu waktu itu, yang tidak memberi aku pilihan jawaban, buat aku harus mengiyakan.  Sampai hari ini aku masih bertanya-tanya, ini salah siapa ya? Semua ini bisa saja memang benar salahmu, atau salahku? Atau salah kita? Iya, salahmu. Kamu yang bilang sendiri, ingin semua ini jadi serius.  Aku bilang, kita coba dulu pacaran, kenal juga baru kan?  Kamu yang bilang sendiri, oh sudah siap, sudah yakin sekali pokoknya dengan alasan ini itu. Kamu tahu kan, aku si hobi banyak mikir ini tidak semudah itu bisa percaya.  Tapi, kamu mulai cerita tentang hidupmu yang katamu ini belum banyak yang tahu.  Kamu yang bilang sendiri, kalau aku bisa terima itu semua, kita bisa lanjutkan cerita.  Kamu tahu kan aku bisa terima? Jujur saja sejak itu aku pikir, oh mungkin kali ini bena...

Mengurai pikiran

Hari ini, 10 Mei 2020, di rumah, ditengah pandemik covid-19 Selama dua bulan dirumah aja karena pandemik ini membuat aku lebih banyak berpikir, lebih banyak khawatir. Aku menemukan diri sendiri yang sudah hampir berumur 25 tahun ini masih banyak kekurangan yang tidak bisa ditoleransi lagi. Semakin insecure pada diri sendiri, secara fisik, sifat, bahkan sikap/attitude. Diumur setua ini, aku merasa sulit dalam mengambil keputusan. Bahkan, keputusan kecil seperti membeli barang di e-commerce pun mikirnya bisa berhari-hari. Seringnya juga malah gak jadi. Apalagi masalah jalan hidup. Pusingnya udah kayak mau sidang skripsi setiap hari. Rasanya takut. Takut memulai,  Takut dengan konsekuensi di depan, Takut menghadapi orang, Takut salah. Memang dari kecil sudah dikesankan bahwa "salah" itu gak boleh. Gak bisa ada kesalahan. Salah jawab saat ujian, belajar yang benar, jangan tolol. Itu yang selalu dipikiranku. Walaupun sekarang sudah dijelaskan "salah itu waj...