Aku pernah berkata pada dunia. Aku tidak mau lagi membagi cinta. Setidaknya, tidak untuk sosok yang salah. Selagi menata hati, esoknya ku malah dapati diriku (lagi-lagi) terjatuh pada kata-kata sendiri.
Ku lihat ia dari kejauhan hari ini, duduk berpangku ransel biru tuanya. Sosok yang terpisahkan oleh penghubung gerbong satu dengan lainnya. Tapi, aku masih bisa lihat jelas kaca mata yang mulai melorot di tengah pejam matanya itu.
Bulan-bulan lalu aku sangat menikmati waktu dan jarak kita. Di pagi yang sama, di bangku ruang tunggu yang sama, di gerbong yang sama, juga terkadang kita pun ada di senja yang sama. Berjarak satu manusia, menikmati arus laju kereta.
Saat-saat aku tidak tahu lagi, yang mana getar kereta, yang mana getar hatiku.
Ia, membuatku tulus meminta dalam doa setiap pagi. Walau ternyata Semesta yang lebih tahu.. Mana yang baik untukku, mana yang baik untuknya.
Layaknya kereta Jakarta yang suka mengkhianati waktu. Aku terkhianati perasaan ini, dengan menemukan hatinya yang sudah bertuan.
Ku lihat ia dari kejauhan hari ini, duduk berpangku ransel biru tuanya. Sosok yang terpisahkan oleh penghubung gerbong satu dengan lainnya. Tapi, aku masih bisa lihat jelas kaca mata yang mulai melorot di tengah pejam matanya itu.
Bulan-bulan lalu aku sangat menikmati waktu dan jarak kita. Di pagi yang sama, di bangku ruang tunggu yang sama, di gerbong yang sama, juga terkadang kita pun ada di senja yang sama. Berjarak satu manusia, menikmati arus laju kereta.
Saat-saat aku tidak tahu lagi, yang mana getar kereta, yang mana getar hatiku.
Ia, membuatku tulus meminta dalam doa setiap pagi. Walau ternyata Semesta yang lebih tahu.. Mana yang baik untukku, mana yang baik untuknya.
Layaknya kereta Jakarta yang suka mengkhianati waktu. Aku terkhianati perasaan ini, dengan menemukan hatinya yang sudah bertuan.
Stasiun Rawa Buaya,
Desek-desekan di dalam kereta
8/5/18, 18:00
Komentar
Posting Komentar