Langsung ke konten utama

2020, kedai kopi

Secangkir kopi di hadapanku sudah dingin sedari tadi, juga suasana diantara kita. Sudah lebih 10 menit kita berhadapan, namun belum ada yang berani membuka suara.

"Apa kabarmu, Ana?", aku memberanikan diri menatap wajah wanita dihadapanku. Ia membalas tatapanku tanpa ekspresi.

Kamu banyak berubah, ah tapi.. masih cantik. Rambutmu sudah tidak diikat kuncir kuda lagi, terurai ikal berwarna coklat. Kulitmu kini cerah, wangi, tidak bau matahari seperti saat-saat kamu suka berjalan kaki ke kampus dulu.

"Baik. Kamu sendiri bagaimana?", Ana tersenyum tipis.

Kamu masih ingat, Ana?

"Baik juga..", jawabku singkat. Tiba-tiba lidahku kelu oleh pikiranku sendiri.

Kita diam lagi. Kamu mengaduk-aduk ice latte-mu lagi, tanpa meminumnya. Aku menatap cangkir kopi hitamku.

Kamu masih ingat, Ana?

"Saya mau minta maaf...", aku menahan nafas menatap Ana.

"Minta maaf untuk apa?", kamu tersenyum menyeringai. Padanganmu masih tertuju pada gelas di atas meja, tanganmu tidak berhenti mengaduk.

Kamu masih ingat, Ana
.

"..untuk semua yang aku lakukan dulu waktu kuliah. Aku salah...padamu."

Saat-saat aku suka menyakitimu. 
Berkali-kali tertawa, di atas perasaanmu.

Ana menatapku, "Andri, saya sudah melupakannya, kok." Kamu tersenyum dan mulai menyeruput kopimu. Matamu berkeliaran keliling kafe.

Kamu masih ingat, Ana.......

Aku masih tidak bisa melepaskan pandanganku darimu. Kamu menoleh, "Ada apa?"

"Tidak... hanya menikmati indahnya ciptaan semesta.." Kamu tertawa kecil dan menyeruput kopimu lagi.

Kita sudah dewasa, Ana. Tapi, aku masih sama saja seperti dulu, terselimuti kenaifan akan rasaku terhadapmu.

Telepon genggammu tiba-tiba berbunyi, memecah waktu yang berhenti.
"Ya, sayang?"





Tangerang, 2/10/17, tengah malam.


Never ignore a person who loves and cares for you. One day, you may realize you've lost the moon while counting the stars. -unknown

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RASA by Nuril Basri (Nyoba Review)

  Aku merasa seperti seorang gadis tua. Seorang gadis berumur 29 tahun yang tidak mengerti apa pun tentang dirinya yang tidak tahu apa yang diinginkannya dalam hidup ini. Aku sebuah bola besar yang menggelinding kebingungan. * Buku ini aku dapat dari giveaway  yang penulisnya buat di twitter tahun 2019. Jujur (dan sorry) aku sebenarnya tidak pernah tahu Nuril Basri. Memang pengetahuanku akan penulis juga kurang, karena buatku membaca seringnya hanya tentang cerita dan isinya. Jadi, seharusnya sih review ini terlihat cukup jujur. Pada cover buku ini tercantum kutipan menarik dari British Council " One of five Indonesian authors to read now " yang agak meningkatkan ekspektasiku. Ditambah lagi, tercantum juga bahwa beberapa karya dari penulis ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Malaysia dan Inggris, membuatku tambah penasaran. Di tahun 2019, setelah membaca halaman-halaman awal, aku merasa kurang motivasi untuk melanjutkan. Aku merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal, tap...

Haunted

Maybe you don’t know, The feeling of rejection, The broken thoughts, The lack ability to defend yourself… will haunt you… Before the important meeting you have to attend or along with the documents you evaluate. Yes, need to take a deep breath to focus on. In the middle of your pilates class. So, you have to take a deeper breath or you’ll be black out. Between your favorite TS’s bridge songs you listen everyday. A deep breath again, cause it should cheer you up. In every steps you take from work to a place you called home. Another deep breath to keep your balance, so you don’t fall in crowd. Even after a main scene of horror movie you try to watch. Pause - a deep breath - play. In all activities you did to distract, they’re always there. They haunted you. They haunted me.

Mengurai pikiran

Hari ini, 10 Mei 2020, di rumah, ditengah pandemik covid-19 Selama dua bulan dirumah aja karena pandemik ini membuat aku lebih banyak berpikir, lebih banyak khawatir. Aku menemukan diri sendiri yang sudah hampir berumur 25 tahun ini masih banyak kekurangan yang tidak bisa ditoleransi lagi. Semakin insecure pada diri sendiri, secara fisik, sifat, bahkan sikap/attitude. Diumur setua ini, aku merasa sulit dalam mengambil keputusan. Bahkan, keputusan kecil seperti membeli barang di e-commerce pun mikirnya bisa berhari-hari. Seringnya juga malah gak jadi. Apalagi masalah jalan hidup. Pusingnya udah kayak mau sidang skripsi setiap hari. Rasanya takut. Takut memulai,  Takut dengan konsekuensi di depan, Takut menghadapi orang, Takut salah. Memang dari kecil sudah dikesankan bahwa "salah" itu gak boleh. Gak bisa ada kesalahan. Salah jawab saat ujian, belajar yang benar, jangan tolol. Itu yang selalu dipikiranku. Walaupun sekarang sudah dijelaskan "salah itu waj...