Langsung ke konten utama

Pertama Kali (part 2) -Short Story

      Hari-hariku biasanya sangat menyenangkan. Aku cukup pintar dan punya semua yang aku mau. Bukannya aku tinggi hati, tapi selalu menjadi nomor 1 di kelas sejak sekolah dasar membuatku cukup berbangga diri. Ya... sampai aku bertemu dia di kelas ini. Sejak tahun pertamaku, aku sudah tahu tentang dia. Bagaimana bisa aku tidak tahu, sepertinya semua wanita dikelasku membicarakannya. Ia yang pintar, katanya. Ia yang tampan, katanya. Dan juga ia yang sedingin gunung es, yang ini aku percaya. Dulu aku hanya tertawa saja ketika mereka berkata betapa beruntungnya aku bisa satu kelas dengannya di tahun kedua. Tapi, mereka dan aku tidak tahu akan merasa semengesalkan ini setelah mengenalnya.

       Siang ini sang surya sepertinya sedang kesal, sama kesalnya dengan aku. Setelah mengumpulkan tugas di meja paling depan dari barisan, seperti biasa guru kami menyuruh orang yang duduk di paling depan untuk menukarkan tumpukan buku tersebut dengan barisan lain. Farhan Andara, yang selalu duduk di barisan paling depan berdiri dengan malas mengangkat tumpukan buku tersebut dan mengantarkan ke barisan seberang. Kemudian, ia melemparnya begitu saja ke meja sehingga beberapa buku berjatuhan mengenai wanita yang duduk disana dan sebagian ke lantai di bawahnya.

       Ia hanya tersenyum kecut, “sorry...” dan berbalik menuju mejanya. Ia pasti mengira tidak ada orang yang melihat perbuatannya itu. Memang benar, sebagian besar teman-teman kami dikelas sedang sibuk mengoper buku dari barisan depan dan sebagian lain cuek saja. Sementara itu, si wanita dengan segera merapikan buku-buku yang terjatuh, matanya terlihat berkaca-kaca.

“Nad, liat gak tadi si Farhan ngapain?”, tanya Dini teman semejaku selama beberapa bulan ini.
 “Iya, gue liat! Gila ya, jahat banget sih!”, timpalku.
“Iya, jahat banget! Liat aja itu di belakang teman-temannya pada cekikikan.” Aku menoleh ke belakang kelas, dan benar saja. Teman-teman Farhan sedang menutup mulutnya menahan tawa, sebagian dari mereka terlihat meledek ke arah depan, “cie..cie..”.

Aku menoleh ke arah depan. Astaga, Farhan Andara tertawa seakan itu adalah hal yang lucu. Padahal sama sekali tidak. 

       Farhan memang terkenal dingin pada wanita-wanita yang “ngefans” padanya, terutama yang tidak ia suka juga. Dia, si wanita, Amara, di kelasku ini memang katanya suka sama Farhan. Suka banget sepertinya malah sampai-sampai perilakunya terlihat aneh di depan Farhan. Inilah alasan mengapa ia selalu menjadi bahan ledekan yang empuk di kelasku. Farhan tidak pernah meredam perilaku teman-temannya pada Amara, bahkan ia ikut-ikutan!

         Aku sendiri mengakui, Amara memang terlihat aneh, tapi sejujurnya aku juga merasa kasihan padanya. Mungkin sikapnya ini akibat dari rasa sukanya pada Farhan. Kata orang, rasa suka itu dapat merubah kita dan membuat kita melakukan hal di luar akal sehat. Sejujurnya aku tidak tahu karena belum pernah merasakannya. Tapi, itu hipotesis paling mungkin untuk kondisi Amara sekarang ini. Eh, tetap saja Farhan jahat!

“NAD!”, Dini mengguncang-guncangkan tubuhku, menyadarkanku dari lamunan tentang seberapa mengesalkannya Farhan hari ini.
“Kenapa sih, Nad?”, jawabku agak malas
“Itu, liat di papan tulis pembagian kelompok tugas IPA!”, nada Dini terdengar agak panik.
Aku menoleh ke papan tulis di depan kami. “APA?!”

Kelompok 4
Nadhira Anggriani
Ridho Siswono
Dini Jelita Kurnia
Farhan Andara

Dari sebanyak 40 murid di kelas ini, mengapa aku harus satu kelompok dengan dia. Tidak ada hari yang lebih sial dari hari ini! OH, GOD PLEASE.

******************************* to be continue

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RASA by Nuril Basri (Nyoba Review)

  Aku merasa seperti seorang gadis tua. Seorang gadis berumur 29 tahun yang tidak mengerti apa pun tentang dirinya yang tidak tahu apa yang diinginkannya dalam hidup ini. Aku sebuah bola besar yang menggelinding kebingungan. * Buku ini aku dapat dari giveaway  yang penulisnya buat di twitter tahun 2019. Jujur (dan sorry) aku sebenarnya tidak pernah tahu Nuril Basri. Memang pengetahuanku akan penulis juga kurang, karena buatku membaca seringnya hanya tentang cerita dan isinya. Jadi, seharusnya sih review ini terlihat cukup jujur. Pada cover buku ini tercantum kutipan menarik dari British Council " One of five Indonesian authors to read now " yang agak meningkatkan ekspektasiku. Ditambah lagi, tercantum juga bahwa beberapa karya dari penulis ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Malaysia dan Inggris, membuatku tambah penasaran. Di tahun 2019, setelah membaca halaman-halaman awal, aku merasa kurang motivasi untuk melanjutkan. Aku merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal, tap...

Haunted

Maybe you don’t know, The feeling of rejection, The broken thoughts, The lack ability to defend yourself… will haunt you… Before the important meeting you have to attend or along with the documents you evaluate. Yes, need to take a deep breath to focus on. In the middle of your pilates class. So, you have to take a deeper breath or you’ll be black out. Between your favorite TS’s bridge songs you listen everyday. A deep breath again, cause it should cheer you up. In every steps you take from work to a place you called home. Another deep breath to keep your balance, so you don’t fall in crowd. Even after a main scene of horror movie you try to watch. Pause - a deep breath - play. In all activities you did to distract, they’re always there. They haunted you. They haunted me.

Mengurai pikiran

Hari ini, 10 Mei 2020, di rumah, ditengah pandemik covid-19 Selama dua bulan dirumah aja karena pandemik ini membuat aku lebih banyak berpikir, lebih banyak khawatir. Aku menemukan diri sendiri yang sudah hampir berumur 25 tahun ini masih banyak kekurangan yang tidak bisa ditoleransi lagi. Semakin insecure pada diri sendiri, secara fisik, sifat, bahkan sikap/attitude. Diumur setua ini, aku merasa sulit dalam mengambil keputusan. Bahkan, keputusan kecil seperti membeli barang di e-commerce pun mikirnya bisa berhari-hari. Seringnya juga malah gak jadi. Apalagi masalah jalan hidup. Pusingnya udah kayak mau sidang skripsi setiap hari. Rasanya takut. Takut memulai,  Takut dengan konsekuensi di depan, Takut menghadapi orang, Takut salah. Memang dari kecil sudah dikesankan bahwa "salah" itu gak boleh. Gak bisa ada kesalahan. Salah jawab saat ujian, belajar yang benar, jangan tolol. Itu yang selalu dipikiranku. Walaupun sekarang sudah dijelaskan "salah itu waj...