Langsung ke konten utama

Letter of Andriana

Belum lama ini aku dengar katanya kamu-Andri mencintai Ana, ya? Aku juga sempat lihat sekilas Ana juga menyambut perasaanmu-Andri. Mukanya tersipu-sipu, kamu-Andri tahu?

Wah, kamu-Andri juga terlihat banyak berubah sejak itu. Lebih terlihat auranya gitu loh. Bahagia ya? Alhamdulillah.

Oh iya, katanya kamu-Andri yakin sekali perasaan itu hanya untuk Ana, dan harap Ana juga begitu. Kamu-Andri bilang Ana akan jadi yang terakhir. Cinta banget gitu katanya, ya? Aamiin.

Jangan dahulukan kehendak Semesta, ingat pesanku satu itu saja.

Iya, Ana cantik. Semakin cantik setiap harinya. Iya, iya.

Eh kemarin aku ketemu Ana. Tapi, kok bukan sama kamu-Andri?

Ana sedang tertawa dengan cinta lamanya, jangan-jangan kamu-Andri tidak tahu ya. Mau aku kasih tahu? Eh, kok aku tahu sih.

Ana bilang, kamu-Andri mengganggunya. Sudah ku bilang jangan dahulukan kehendak Semesta. Ah, kamu-Andri nih tidak pernah berhenti jadi anak nakal.

Kata Ana cinta itu kenyamanan dan ketulusan. Aku kira kamu-Andri sudah hatam betul, seperti rumus-rumus matematika semester lalu.

Sekarang, Ana lebih senang menoleh ke belakang daripada kamu-Andri yang berada di depan. 

Sayang sekali, ya? Padahal aku berharap Ana sama kamu-Andri saja. Tanya saja kepada Semesta siapa yang aku sebut dalam doa setelah namamu-Andri, Ana.

Yah, walau aku terlihat seperti membuka luka pakai kuku jari. Tapi, asal kamu-Andri tahu, luka itu ternyata sudah kering diganti dengan kulit baru. No problemo.

Sekarang bagaimana perasaanmu-Andri? Katanya kamu-Andri tetap akan mengejar (kembali) Ana, ya? Wah, semangat ya! Ingat-ingat saja pesanku tadi.

Jujur saja ya, ketika yang lain bersedih untukmu-Andri, aku tidak merasakan apa-apa. Tapi, kalau aku bahagia malah jadi jahat, ya?

Bagaimana rasanya berada di posisi ini? Tentu saja, berbeda posisinya denganku saat itu. Aku tidak akan menyama-nyamakan.

Eh, aku selalu doain kamu-Andri yang baik-baik kok. Jangan dendam ya.

Sepertinya saat ini aku yang akan dibilang seenaknya bawa-bawa perasaan lagi, ya? Padahal dulu sebelum ketemu kamu-Andri, aku selalu dibilang tidak punya perasaan loh. Lebih asik gitu sih kayaknya.




-Dari teman Ana, tapi tidak terlalu dekat juga sih.


*********
Hai!
Jadi hari ini gue tiba-tiba mood nulis. Setelah liat-liat instagram dan chat random dengan teman Sma yang tiba-tiba berlanjut terus, timbulah inspirasi ini yeay!! Tadinya judulnya Ananta, Ana dan Nanta (sesuai dengan foto di explore gue yang tiba-tiba muncul). EH tapi diganti aja demi kemaslahatan semua umat di dunia :p Tulisan ini bukan curhat, fiktif aja yaaa. Karena kalo nulis blog sering dibilang curhat:") Judul kayak nama orang gitu terinspirasi dari blog teman sebelah (thank you!). Gitu aja sih... haha!

Tangerang, GK.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RASA by Nuril Basri (Nyoba Review)

  Aku merasa seperti seorang gadis tua. Seorang gadis berumur 29 tahun yang tidak mengerti apa pun tentang dirinya yang tidak tahu apa yang diinginkannya dalam hidup ini. Aku sebuah bola besar yang menggelinding kebingungan. * Buku ini aku dapat dari giveaway  yang penulisnya buat di twitter tahun 2019. Jujur (dan sorry) aku sebenarnya tidak pernah tahu Nuril Basri. Memang pengetahuanku akan penulis juga kurang, karena buatku membaca seringnya hanya tentang cerita dan isinya. Jadi, seharusnya sih review ini terlihat cukup jujur. Pada cover buku ini tercantum kutipan menarik dari British Council " One of five Indonesian authors to read now " yang agak meningkatkan ekspektasiku. Ditambah lagi, tercantum juga bahwa beberapa karya dari penulis ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Malaysia dan Inggris, membuatku tambah penasaran. Di tahun 2019, setelah membaca halaman-halaman awal, aku merasa kurang motivasi untuk melanjutkan. Aku merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal, tap...

dua-lima

Tiba dimasa hidup bukan lagi tentang angka-angka di atas kertas. Bukan tentang siapa yang menang dari siapa, Tapi menyadari bahwa adanya makna, Pada setiap langkah dipijak, Pada setiap jalan dipilih. Merasa tercekat saat ditinggal orang-orang dekat. Sadari hidup sudah berputar pada porosnya masing-masing. Kesamaan tinggalah wacana basi di tahun-tahun lalu. Kamu punya waktumu sendiri, katanya.  Tapi sepi tetaplah sepi. Perasaan sedih seperti tertinggal bis dibelakang, kadang terasa nyata. Tapi, sebagai orang yang "dewasa", semua harus terlihat baik-baik saja. Banyak mimpi lama juga harus diganti realita. Berharap semoga masih ada peluang, barang setitik (.) Tapi semakin lama ternyata semakin hilang. Tanpa arah, terseok merakit mimpi baru yang "semoga" lebih nyata. Yakini, Kamu pasti bisa berdiri sendiri. Orang-orang bisa jadi sedang sibuk dengan dunianya sendiri,  Jadi, tidak akan mengerti kamu lagi. Ketika lelah "mencari", baiknya mungkin mulai "menja...

Mengurai pikiran

Hari ini, 10 Mei 2020, di rumah, ditengah pandemik covid-19 Selama dua bulan dirumah aja karena pandemik ini membuat aku lebih banyak berpikir, lebih banyak khawatir. Aku menemukan diri sendiri yang sudah hampir berumur 25 tahun ini masih banyak kekurangan yang tidak bisa ditoleransi lagi. Semakin insecure pada diri sendiri, secara fisik, sifat, bahkan sikap/attitude. Diumur setua ini, aku merasa sulit dalam mengambil keputusan. Bahkan, keputusan kecil seperti membeli barang di e-commerce pun mikirnya bisa berhari-hari. Seringnya juga malah gak jadi. Apalagi masalah jalan hidup. Pusingnya udah kayak mau sidang skripsi setiap hari. Rasanya takut. Takut memulai,  Takut dengan konsekuensi di depan, Takut menghadapi orang, Takut salah. Memang dari kecil sudah dikesankan bahwa "salah" itu gak boleh. Gak bisa ada kesalahan. Salah jawab saat ujian, belajar yang benar, jangan tolol. Itu yang selalu dipikiranku. Walaupun sekarang sudah dijelaskan "salah itu waj...