Langsung ke konten utama

Tupai dan merpati

Tupai bisa saja jatuh pada lubang yang sama kan? 
Mungkin ini bisa dibilang jatuh atau juga tidak. Setidaknya belum terlalu dalam jatuh.

Seekor merpati menghampiri tupai di daratan. Ia banyak berkisah tentang hidupnya di negeri orang. Tentang betapa negeri orang tidaklah senyaman negeri ibunda. Tentang kekecewaan yang mendalam akibat perlakuan semesta. Tentang ketidakadilan yang membuatnya segera mencari jalan pulang. Sayapnya hampir patah, remuk.

Tupai tenang mendengarkan. Menghibur sebisa ia. Berusaha tidak meneteskan cuka di atas luka.
Merpati memang pernah tinggal bersama tupai di pohon yang sama. Berbagi makanan, tawa, dan takdir hidup sehari-hari. Salah satu teman baiknya, kata merpati. Teman. Tupai mungkin akan kecewa mendengarnya.

Dan... Ia telah kecewa hari ini.

Merpati memang datang, datang bukan untuk tupai. Ia hanya butuh pulang. Tupai bukan tujuan merpati pulang. Merpati hanya butuh ruang. Butuh dukungan. Seperti burung-burung sebelumnya, ia hanya singgah lalu akan terbang lagi. Lagi dan selalu terulang. Kisah lama dengan tupai sebagai pesakitannya.

Ia hanya salah satu dari jalan pulang merpati. Kasihan tupai.

Tapi, tupai juga tahu. Bukan salah merpati, atau burung-burung lainnya. Bukan salah ia pula. Memang takdir dari semesta saja. Ia akan tetap selalu ada untuk merpati tentunya, tupai berjanji dalam hati.

Setidaknya tupai tahu ada banyak jenis teman yang diciptakan semesta. Ia hanya perlu lebih banyak bersantai.
.
.
.
.
.
.
Tangerang, sehabis hujan.


kau bagai kata yg terus melaju
diluasnya ombak samudera biru
namun sayangnya kau tak pilih aku
jadi pelabuhanmu
Pelangi - HiVi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RASA by Nuril Basri (Nyoba Review)

  Aku merasa seperti seorang gadis tua. Seorang gadis berumur 29 tahun yang tidak mengerti apa pun tentang dirinya yang tidak tahu apa yang diinginkannya dalam hidup ini. Aku sebuah bola besar yang menggelinding kebingungan. * Buku ini aku dapat dari giveaway  yang penulisnya buat di twitter tahun 2019. Jujur (dan sorry) aku sebenarnya tidak pernah tahu Nuril Basri. Memang pengetahuanku akan penulis juga kurang, karena buatku membaca seringnya hanya tentang cerita dan isinya. Jadi, seharusnya sih review ini terlihat cukup jujur. Pada cover buku ini tercantum kutipan menarik dari British Council " One of five Indonesian authors to read now " yang agak meningkatkan ekspektasiku. Ditambah lagi, tercantum juga bahwa beberapa karya dari penulis ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Malaysia dan Inggris, membuatku tambah penasaran. Di tahun 2019, setelah membaca halaman-halaman awal, aku merasa kurang motivasi untuk melanjutkan. Aku merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal, tap...

Terakhir deh ini (ruwet banget isi kepala w)

Ternyata cerita kita ini sampai pada akhirnya juga ya.  Walaupun bukan akhir seperti yang kita rencanakan di awal, tapi semoga sudah sesuai dengan yang kamu inginkan.  Sesuai kata-kata pisahmu waktu itu, yang tidak memberi aku pilihan jawaban, buat aku harus mengiyakan.  Sampai hari ini aku masih bertanya-tanya, ini salah siapa ya? Semua ini bisa saja memang benar salahmu, atau salahku? Atau salah kita? Iya, salahmu. Kamu yang bilang sendiri, ingin semua ini jadi serius.  Aku bilang, kita coba dulu pacaran, kenal juga baru kan?  Kamu yang bilang sendiri, oh sudah siap, sudah yakin sekali pokoknya dengan alasan ini itu. Kamu tahu kan, aku si hobi banyak mikir ini tidak semudah itu bisa percaya.  Tapi, kamu mulai cerita tentang hidupmu yang katamu ini belum banyak yang tahu.  Kamu yang bilang sendiri, kalau aku bisa terima itu semua, kita bisa lanjutkan cerita.  Kamu tahu kan aku bisa terima? Jujur saja sejak itu aku pikir, oh mungkin kali ini bena...

Mengurai pikiran

Hari ini, 10 Mei 2020, di rumah, ditengah pandemik covid-19 Selama dua bulan dirumah aja karena pandemik ini membuat aku lebih banyak berpikir, lebih banyak khawatir. Aku menemukan diri sendiri yang sudah hampir berumur 25 tahun ini masih banyak kekurangan yang tidak bisa ditoleransi lagi. Semakin insecure pada diri sendiri, secara fisik, sifat, bahkan sikap/attitude. Diumur setua ini, aku merasa sulit dalam mengambil keputusan. Bahkan, keputusan kecil seperti membeli barang di e-commerce pun mikirnya bisa berhari-hari. Seringnya juga malah gak jadi. Apalagi masalah jalan hidup. Pusingnya udah kayak mau sidang skripsi setiap hari. Rasanya takut. Takut memulai,  Takut dengan konsekuensi di depan, Takut menghadapi orang, Takut salah. Memang dari kecil sudah dikesankan bahwa "salah" itu gak boleh. Gak bisa ada kesalahan. Salah jawab saat ujian, belajar yang benar, jangan tolol. Itu yang selalu dipikiranku. Walaupun sekarang sudah dijelaskan "salah itu waj...