Langsung ke konten utama
Hidup dalam atmosfir baru memang tidak pernah semudah menghafal konsep adaptasi makhluk hidup dalam biologi. Bahkan, ketika berkata siap untuk berlari pun masih saja sesak di jalan.

Masih berjalan tertatih ketika memasuki gerbang itu. Gerbang kecil, gerbang pertama penghubung mimpi di masa depan. Sulit untuk dijalani, katanya, tapi pasti dan bisa dijalani. Ya, seharusnya bisa seoptimis itu.

Bukan, tapi bukan itu inti tulisan ini. Bukan tentang mimpi yang sulit diraih.

Masalah mimpi, percaya saja, semua pasti sudah tepat diposisikan oleh Semesta. Tidak ada keraguan akan itu, bukan?

Ya.
Ini tentang perasaan seorang Dewi. Masih, masih sama. Seorang Dewi beranjak dewasa yang tak kunjung belajar.

Ya.
Dia lagi-lagi terjelembab, jatuh.

Jatuh?
Jatuh lagi bahkan sebelum ia bisa kembali berdiri tegak dari luka di masa lalu. Bukan, bukan karena Sang Dewi tak sadar. Justru ia terlalu sadar untuk menghindar. Melarikan diri sejauh mungkin dari rasa yang semakin mengembang besar. Setidaknya dia berusaha untuk itu.

Semakin berlari, semakin terasa.

Seperti memeluk pohon kaktus berduri, Sang Dewi berlaku tak peduli setiap hari. Lalu menangisi takdir yang tak jua bersinggungan lagi.

Apa yang begitu terasa perih ketika berada tepat di depan mata namun sulit untuk diraih ? Bersama hampir di setiap hari, seperti dua kutub yang saling berlawanan arah, tidak bisa saling menyatu.


ps: for the one who always makes me wondering why doing it-touched my hair-everyday.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RASA by Nuril Basri (Nyoba Review)

  Aku merasa seperti seorang gadis tua. Seorang gadis berumur 29 tahun yang tidak mengerti apa pun tentang dirinya yang tidak tahu apa yang diinginkannya dalam hidup ini. Aku sebuah bola besar yang menggelinding kebingungan. * Buku ini aku dapat dari giveaway  yang penulisnya buat di twitter tahun 2019. Jujur (dan sorry) aku sebenarnya tidak pernah tahu Nuril Basri. Memang pengetahuanku akan penulis juga kurang, karena buatku membaca seringnya hanya tentang cerita dan isinya. Jadi, seharusnya sih review ini terlihat cukup jujur. Pada cover buku ini tercantum kutipan menarik dari British Council " One of five Indonesian authors to read now " yang agak meningkatkan ekspektasiku. Ditambah lagi, tercantum juga bahwa beberapa karya dari penulis ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Malaysia dan Inggris, membuatku tambah penasaran. Di tahun 2019, setelah membaca halaman-halaman awal, aku merasa kurang motivasi untuk melanjutkan. Aku merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal, tap...

dua-lima

Tiba dimasa hidup bukan lagi tentang angka-angka di atas kertas. Bukan tentang siapa yang menang dari siapa, Tapi menyadari bahwa adanya makna, Pada setiap langkah dipijak, Pada setiap jalan dipilih. Merasa tercekat saat ditinggal orang-orang dekat. Sadari hidup sudah berputar pada porosnya masing-masing. Kesamaan tinggalah wacana basi di tahun-tahun lalu. Kamu punya waktumu sendiri, katanya.  Tapi sepi tetaplah sepi. Perasaan sedih seperti tertinggal bis dibelakang, kadang terasa nyata. Tapi, sebagai orang yang "dewasa", semua harus terlihat baik-baik saja. Banyak mimpi lama juga harus diganti realita. Berharap semoga masih ada peluang, barang setitik (.) Tapi semakin lama ternyata semakin hilang. Tanpa arah, terseok merakit mimpi baru yang "semoga" lebih nyata. Yakini, Kamu pasti bisa berdiri sendiri. Orang-orang bisa jadi sedang sibuk dengan dunianya sendiri,  Jadi, tidak akan mengerti kamu lagi. Ketika lelah "mencari", baiknya mungkin mulai "menja...

Mengurai pikiran

Hari ini, 10 Mei 2020, di rumah, ditengah pandemik covid-19 Selama dua bulan dirumah aja karena pandemik ini membuat aku lebih banyak berpikir, lebih banyak khawatir. Aku menemukan diri sendiri yang sudah hampir berumur 25 tahun ini masih banyak kekurangan yang tidak bisa ditoleransi lagi. Semakin insecure pada diri sendiri, secara fisik, sifat, bahkan sikap/attitude. Diumur setua ini, aku merasa sulit dalam mengambil keputusan. Bahkan, keputusan kecil seperti membeli barang di e-commerce pun mikirnya bisa berhari-hari. Seringnya juga malah gak jadi. Apalagi masalah jalan hidup. Pusingnya udah kayak mau sidang skripsi setiap hari. Rasanya takut. Takut memulai,  Takut dengan konsekuensi di depan, Takut menghadapi orang, Takut salah. Memang dari kecil sudah dikesankan bahwa "salah" itu gak boleh. Gak bisa ada kesalahan. Salah jawab saat ujian, belajar yang benar, jangan tolol. Itu yang selalu dipikiranku. Walaupun sekarang sudah dijelaskan "salah itu waj...