Malam ini saya berencana untuk aktif menulis lagi. Sebetulnya sudah banyak ide di kepala. Bukan hanya malam ini, bahkan sejak berminggu-minggu yang lalu. Bahkan sejak saya masih harus memikirkan solusi khusus dan solusi umum, hingga kini saya menjadi pengangguran. Ah, tapi itulah saya. Lagi-lagi saya tidak tergerak. Hanya berpikir, berpikir, dan membayangkan. Berpikir terus akan sesuatu yang ingin saya tulis. Merangkai beberapa kata di kepala lalu hilang karna saya tak juga menuangkannya ke dunia nyata. Saya pernah berjanji untuk menulis cerita tentang masa kuliah tingkat pertama saya. Tentu saja, saya sudah memulainya. Baru beberapa kata, lalu saya kehilangan rasa untuk melanjutkannya. Mungkin nanti, entah kapan jika saya ada waktu. Tidak, saya memiliki banyak waktu sekarang. Saya sedang dalam libur semester yang berbulan-bulan. Saya di rumah saja dan sesekali pergi bersama teman-teman saya. Tapi lebih banyak waktu di rumah, menonton tv atau menonton drama korea yang entah mengapa jadi saya gandrungi. Tunggu saja. Beberapa hari yang lalu saya menemukan blog teman saya. Teman yang baru saya kenal beberapa bulan lalu. Wanita hebat. Saya menemukan sesuatu yang menarik pada tulisannya. Jadi, dia pernah melakukan kegiatan 'tantangan 30 hari ngeblog'. Dia kalah, katanya. Saya tidak tahu siapa lawannya, sepertinya seseorang yang spesial buat dia. Tapi bukan itu poinnya. Saya jadi ingin melakukan hal itu. 30 hari nonstop ngepost. Bebas saja apa yang isinya. Ah tapi, saya tidak punya seseorang yg spesial untuk menjadi lawan. Atau mungkin tidak perlu spesial, teman saja cukup, hanya sebagai pengisi liburan yang berhadiah.
Ternyata cerita kita ini sampai pada akhirnya juga ya. Walaupun bukan akhir seperti yang kita rencanakan di awal, tapi semoga sudah sesuai dengan yang kamu inginkan. Sesuai kata-kata pisahmu waktu itu, yang tidak memberi aku pilihan jawaban, buat aku harus mengiyakan. Sampai hari ini aku masih bertanya-tanya, ini salah siapa ya? Semua ini bisa saja memang benar salahmu, atau salahku? Atau salah kita? Iya, salahmu. Kamu yang bilang sendiri, ingin semua ini jadi serius. Aku bilang, kita coba dulu pacaran, kenal juga baru kan? Kamu yang bilang sendiri, oh sudah siap, sudah yakin sekali pokoknya dengan alasan ini itu. Kamu tahu kan, aku si hobi banyak mikir ini tidak semudah itu bisa percaya. Tapi, kamu mulai cerita tentang hidupmu yang katamu ini belum banyak yang tahu. Kamu yang bilang sendiri, kalau aku bisa terima itu semua, kita bisa lanjutkan cerita. Kamu tahu kan aku bisa terima? Jujur saja sejak itu aku pikir, oh mungkin kali ini bena...
Komentar
Posting Komentar