Langsung ke konten utama

Buat tetangga sebelah

Tulisan ini gue dedikasi untuk seorang teman di masa lalu, orang yang spesial kayak martabak, manis kayak coklat, seorang bidadari kutabumi yang tiba-tiba gua kangenin.

Berhasil gak nih gua bikin lo terbang? Hahaha.

Intinya gua kangen sekangen-kangennya sama temen alay sejati gue yang satu ini wk.

Cerita dikit aja tentang awalnya gue kenal dia, atau lebih tepatnya dimana pertama kali gue tau ada dia di dunia ini. Jadi gini... sekitar empat-lima tahun yang lalu, dimana gue masih ucul pake rok biru, temen gue (sebut saja si A) punya temen sekelas dengan rambut kriwil-kriwil unyu yang punya badan lebih tinggi dari monas. Lebay, pokoknya dia kelewat tinggi dari cewek-cewek seumurnya. Saat itu nih, gue sedang terlibat dalam sebuah hubungan dengan makhluk paling pinter di sekolahan gue itu. Hubungan yang dulu orang bilang spesial. Dulu ya dulu. Iya. Lanjut ceritanya, gue menemukan cewek kriwil unyu itu lagi ngintip di balik balkon lantai dua. Waktu itu, kelas gue lagi dijemur di lapangan karena yaaaa you know lah, kelas berantakan gak ada yang beresin. Gue menemukan atau lebih tepatnya memergoki dia lagi ngeliatin... iya, si itu lah. Anehnya, gue gak sebel dan malah ngakak. Ah iya, gue kasih tau satu hal, orang yang lo intip itu kegeeran sampe tingkat langit ke tujuh. Bangga punya fans.

Gak sampe disitu, ternyata kita satu SMA lagi. Gak ngerti kenapa semesta menakdirkan kita untuk menuntut ilmu di tempat yang sama, kita bertiga. Loh?


Jadi, intinya gue gatau kenapa bisa temenan sama cewek satu ini wkwk. Temen satu nasib, satu perjuangan dimana ketika kita pulang sekolah, sampai di rumah, buka pintu, ucap salam, kemudian hening. Sama-sama gatau gimana rasanya dianter-jemput sama kakak yang merangkap jadi tukang ojek. Sama-sama hobby galau, gampang ketawa abis itu nangis, dan kelabilan tingkat dewa. Sama-sama mulai dari suka nulis galau di blog (Oh iya, sekarang udah enggak) sampe tukeran quotes yang gak kalah galaunya. Cerita cinta juga hampir sama. Didatangi lalu pergi, akhirnya malah nyesel sendiri. Pernah terjebak perasaan sama orang yang sama (cerita diatas)........salah banget loh ini kita, salah orang.

Yang paling gue inget itu, pas kita kelas tiga SMA, dimana gue berada di titik peledakkan antara patah hati dan stres ujian, kita suka buka forum gitu pas pulang sekolah. Jatoh-jatohnya, kita emang harus fokus UN dulu. Alhamdulillahnya, kita bisa dapet tempat yang di universitas. Ini doa-doa orang tersakiti, Dit. HAHA

Bersyukur juga gue kenal dan punya temen kayak lu yang ngajarin kalau lagi random tuh sebaiknya disalurin ke nulis. Yah, walopun tulisan gue gak sebagus elu tapi bikin lega juga sih, Daripada update di socmed yagak? (padahal itu masih sering gue lakuin sih hahaha (///_-)v)

Akhir kata, gue mengucapkan terima kasih. Tapi tetep jangan geer ya karna gue udah bikin lo jadi main topic di postingan ini-_- jangan ngalay berlebihan juga. Baik-baik ya di purwokerto.... Sampai ketemu lagi entah kapan.....................


(ignore our faces-_-)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RASA by Nuril Basri (Nyoba Review)

  Aku merasa seperti seorang gadis tua. Seorang gadis berumur 29 tahun yang tidak mengerti apa pun tentang dirinya yang tidak tahu apa yang diinginkannya dalam hidup ini. Aku sebuah bola besar yang menggelinding kebingungan. * Buku ini aku dapat dari giveaway  yang penulisnya buat di twitter tahun 2019. Jujur (dan sorry) aku sebenarnya tidak pernah tahu Nuril Basri. Memang pengetahuanku akan penulis juga kurang, karena buatku membaca seringnya hanya tentang cerita dan isinya. Jadi, seharusnya sih review ini terlihat cukup jujur. Pada cover buku ini tercantum kutipan menarik dari British Council " One of five Indonesian authors to read now " yang agak meningkatkan ekspektasiku. Ditambah lagi, tercantum juga bahwa beberapa karya dari penulis ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Malaysia dan Inggris, membuatku tambah penasaran. Di tahun 2019, setelah membaca halaman-halaman awal, aku merasa kurang motivasi untuk melanjutkan. Aku merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal, tap...

dua-lima

Tiba dimasa hidup bukan lagi tentang angka-angka di atas kertas. Bukan tentang siapa yang menang dari siapa, Tapi menyadari bahwa adanya makna, Pada setiap langkah dipijak, Pada setiap jalan dipilih. Merasa tercekat saat ditinggal orang-orang dekat. Sadari hidup sudah berputar pada porosnya masing-masing. Kesamaan tinggalah wacana basi di tahun-tahun lalu. Kamu punya waktumu sendiri, katanya.  Tapi sepi tetaplah sepi. Perasaan sedih seperti tertinggal bis dibelakang, kadang terasa nyata. Tapi, sebagai orang yang "dewasa", semua harus terlihat baik-baik saja. Banyak mimpi lama juga harus diganti realita. Berharap semoga masih ada peluang, barang setitik (.) Tapi semakin lama ternyata semakin hilang. Tanpa arah, terseok merakit mimpi baru yang "semoga" lebih nyata. Yakini, Kamu pasti bisa berdiri sendiri. Orang-orang bisa jadi sedang sibuk dengan dunianya sendiri,  Jadi, tidak akan mengerti kamu lagi. Ketika lelah "mencari", baiknya mungkin mulai "menja...

Mengurai pikiran

Hari ini, 10 Mei 2020, di rumah, ditengah pandemik covid-19 Selama dua bulan dirumah aja karena pandemik ini membuat aku lebih banyak berpikir, lebih banyak khawatir. Aku menemukan diri sendiri yang sudah hampir berumur 25 tahun ini masih banyak kekurangan yang tidak bisa ditoleransi lagi. Semakin insecure pada diri sendiri, secara fisik, sifat, bahkan sikap/attitude. Diumur setua ini, aku merasa sulit dalam mengambil keputusan. Bahkan, keputusan kecil seperti membeli barang di e-commerce pun mikirnya bisa berhari-hari. Seringnya juga malah gak jadi. Apalagi masalah jalan hidup. Pusingnya udah kayak mau sidang skripsi setiap hari. Rasanya takut. Takut memulai,  Takut dengan konsekuensi di depan, Takut menghadapi orang, Takut salah. Memang dari kecil sudah dikesankan bahwa "salah" itu gak boleh. Gak bisa ada kesalahan. Salah jawab saat ujian, belajar yang benar, jangan tolol. Itu yang selalu dipikiranku. Walaupun sekarang sudah dijelaskan "salah itu waj...