...that moment when you didn't know why you feel so much lost...................
Apa yang orang bilang 'cinta' itu bisa menyakiti itu mungkin ada benarnya. Apalagi ketika cinta itu datang untuk orang yang salah. Untuk dia yang tidak akan pernah memiliki rasa cinta yang sama. Untuk dia yang mencintai orang lain. Untuk dia yang menganggapmu -hanya teman-.
Pagi itu aku bangun tidur seperti biasa. Walau agak kurang bersemangat, aku tetap berangkat ke sekolah. Aku sampai di sekolah , sekitar pukul 6 pagi waktu itu. Aku sangat menikmati saat-saat matahari masih enggan memunculkan sosoknya, sepi, gelap, sejuk dan damai. Aku memilih bangku di barisan tengah. Aku duduk dan tenggelam dalam diam. Pikiranku mulai melayang pada insiden beberapa hari lalu. Saat sesuatu itu berhasil pindah kegenggaman tangannya. Saat aku berpura-pura tidak tahu dan bersembunyi di balik pintu kelas. Saat temanku datang dan bilang, 'udah dia terima kok'. Saat itu aku berpikir, entah harus senang atau sedih, namun aku tersenyum pertanda 'kerja bagus'. Dan saat esok harinya ketika dia tiba-tiba datang dan berkata, 'terima kasih ya' lengkap dengan senyumannya yang orang-orang bilang mematikan itu. Nyatanya akupun hampir mati dibuatnya. Wajahku panas, bersemu merah mungkin. Senang? Ya, saat itu jelas aku senang. Entah bagaimana pun aku sudah tidak dapat berpura-pura menjadi teman baiknya lagi. Aku pikir mungkin sudah waktunya untuk membuka semua apa yang aku rasa.
Namun, semua rasa senang itu sirna lebih cepat dari kecepatan cahaya. Saat omongan-omongan panas mulai terdengar. Saat tatapan-tatapan sinis terhadapku mulai datang. Saat orang-orang berkata wanita macam apa aku ini. Bingung, aku terus bertanya-tanya. Tau dari mana mereka? Penjelasan pun mulai terungkap satu-persatu, membuat serangkaian cerita semakin menjelaskan semua yang terjadi, menghubungkan semua peristiwa menjadi satu batu besar yang seakan menghantamku. Sakit. Ya, sakit sekali.
Jadi, kamu ceritakan hal itu kepada mereka? Iya? Apa saja yang sudah kamu ceritakan? Apa aku sudah cukup eksis dikalangan teman-temanmu?
Aku mungkin memang mempunyai rasa itu kepada mu. Aku juga tidak memungkiri akan sesuatu yang aku berikan kepadamu itu sebagai kelabilan semata. Tapi, aku juga bisa marah. Aku juga bisa kecewa. Aku bisa menghilangkan rasa itu kalau kamu selalu memperlakukan aku seperti ini. Aku bisa. Jangan kira aku bodoh karna mencintaimu. Maaf, tapi tidak.
Dan apa yang lebih membuat aku kecewa, ketika kamu memberikan pemberianku itu kepada orang lain. Oke, bukan orang lain, saudaramu. Sama saja. Apa yang kamu pikirkan? Kalau tidak suka sebaiknya kembalikan kepadaku. Itu mungkin lebih baik.
Tadinya aku ingin melanjutkan perasaan ini padamu. Walaupun orang-orang disekitarku telah memintaku untu berhenti. Bahkan, apa kamu tau? Teman terdekatmu menyuruhku untuk berhenti saja, daripada aku harus menelan pil pahit untuk kedua kalinya. Entah kapan yang dia maksud pertama kalinya, aku pun tidak tahu dan belum ingin mencari tahu. Mungkin besok atau hari ini? Pasti aku akan tanyakan padanya nanti.
Dan sekarang, hari ini, detik ini, dan mungkin untuk seterusnya, aku memutuskan untuk berhenti mencintaimu. Mengapa? Karena aku sudah tau yang sebenarnya. Aku sudah mengerti akan perasaanmu pada wanita itu. Aku tau, sejak dulu hingga sekarang wanita itu tidak pernah tergantikan. Kamu juga pasti tau, aku tau dia walau tidak mengenalnya dengan baik. Oh ya, ini lucu, siapa yang tidak kenal dia? Wanita cantik dengan suara khas. Perfect. Jelas dengan sangat, seorang anak berumur 4 tahun pun bisa membedakan mana yang lebih baik diantara dia atau aku. Dia. Tiada tandingannya di hatimu.
Aku tidak akan mengganggumu. Tenang saja, aku akan pergi...............
Sekarang kita jauh terpisah dinding tebal itu, dan akan segera jauh terpisah lagi karna aku memutuskan untuk menjauh darimu, tidak ada lagi aku yang dulu selalu ingin dekat denganmu. Mungkin sementara kita tidak usah bicara. Karena setiap aku menatap matamu, rasa itu selalu bertambah parah. Mungkin ini akan berlangsung lama, satu tahun; dua tahun atau mungkin hanya berbulan-bulan, aku tidak tahu. Kalau memang kamu pernah disakiti wanita, jangan kamu balas dengan melakukan hal yang sama kepada orang lain. Karma does exist, but not in your hand.
Selamat tinggal, Do. Senang sempat bisa mengenalmu. Sampai berjumpa di lain waktu :)
Apa yang orang bilang 'cinta' itu bisa menyakiti itu mungkin ada benarnya. Apalagi ketika cinta itu datang untuk orang yang salah. Untuk dia yang tidak akan pernah memiliki rasa cinta yang sama. Untuk dia yang mencintai orang lain. Untuk dia yang menganggapmu -hanya teman-.
Pagi itu aku bangun tidur seperti biasa. Walau agak kurang bersemangat, aku tetap berangkat ke sekolah. Aku sampai di sekolah , sekitar pukul 6 pagi waktu itu. Aku sangat menikmati saat-saat matahari masih enggan memunculkan sosoknya, sepi, gelap, sejuk dan damai. Aku memilih bangku di barisan tengah. Aku duduk dan tenggelam dalam diam. Pikiranku mulai melayang pada insiden beberapa hari lalu. Saat sesuatu itu berhasil pindah kegenggaman tangannya. Saat aku berpura-pura tidak tahu dan bersembunyi di balik pintu kelas. Saat temanku datang dan bilang, 'udah dia terima kok'. Saat itu aku berpikir, entah harus senang atau sedih, namun aku tersenyum pertanda 'kerja bagus'. Dan saat esok harinya ketika dia tiba-tiba datang dan berkata, 'terima kasih ya' lengkap dengan senyumannya yang orang-orang bilang mematikan itu. Nyatanya akupun hampir mati dibuatnya. Wajahku panas, bersemu merah mungkin. Senang? Ya, saat itu jelas aku senang. Entah bagaimana pun aku sudah tidak dapat berpura-pura menjadi teman baiknya lagi. Aku pikir mungkin sudah waktunya untuk membuka semua apa yang aku rasa.
Namun, semua rasa senang itu sirna lebih cepat dari kecepatan cahaya. Saat omongan-omongan panas mulai terdengar. Saat tatapan-tatapan sinis terhadapku mulai datang. Saat orang-orang berkata wanita macam apa aku ini. Bingung, aku terus bertanya-tanya. Tau dari mana mereka? Penjelasan pun mulai terungkap satu-persatu, membuat serangkaian cerita semakin menjelaskan semua yang terjadi, menghubungkan semua peristiwa menjadi satu batu besar yang seakan menghantamku. Sakit. Ya, sakit sekali.
Jadi, kamu ceritakan hal itu kepada mereka? Iya? Apa saja yang sudah kamu ceritakan? Apa aku sudah cukup eksis dikalangan teman-temanmu?
Aku mungkin memang mempunyai rasa itu kepada mu. Aku juga tidak memungkiri akan sesuatu yang aku berikan kepadamu itu sebagai kelabilan semata. Tapi, aku juga bisa marah. Aku juga bisa kecewa. Aku bisa menghilangkan rasa itu kalau kamu selalu memperlakukan aku seperti ini. Aku bisa. Jangan kira aku bodoh karna mencintaimu. Maaf, tapi tidak.
Dan apa yang lebih membuat aku kecewa, ketika kamu memberikan pemberianku itu kepada orang lain. Oke, bukan orang lain, saudaramu. Sama saja. Apa yang kamu pikirkan? Kalau tidak suka sebaiknya kembalikan kepadaku. Itu mungkin lebih baik.
Tadinya aku ingin melanjutkan perasaan ini padamu. Walaupun orang-orang disekitarku telah memintaku untu berhenti. Bahkan, apa kamu tau? Teman terdekatmu menyuruhku untuk berhenti saja, daripada aku harus menelan pil pahit untuk kedua kalinya. Entah kapan yang dia maksud pertama kalinya, aku pun tidak tahu dan belum ingin mencari tahu. Mungkin besok atau hari ini? Pasti aku akan tanyakan padanya nanti.
Dan sekarang, hari ini, detik ini, dan mungkin untuk seterusnya, aku memutuskan untuk berhenti mencintaimu. Mengapa? Karena aku sudah tau yang sebenarnya. Aku sudah mengerti akan perasaanmu pada wanita itu. Aku tau, sejak dulu hingga sekarang wanita itu tidak pernah tergantikan. Kamu juga pasti tau, aku tau dia walau tidak mengenalnya dengan baik. Oh ya, ini lucu, siapa yang tidak kenal dia? Wanita cantik dengan suara khas. Perfect. Jelas dengan sangat, seorang anak berumur 4 tahun pun bisa membedakan mana yang lebih baik diantara dia atau aku. Dia. Tiada tandingannya di hatimu.
Aku tidak akan mengganggumu. Tenang saja, aku akan pergi...............
Sekarang kita jauh terpisah dinding tebal itu, dan akan segera jauh terpisah lagi karna aku memutuskan untuk menjauh darimu, tidak ada lagi aku yang dulu selalu ingin dekat denganmu. Mungkin sementara kita tidak usah bicara. Karena setiap aku menatap matamu, rasa itu selalu bertambah parah. Mungkin ini akan berlangsung lama, satu tahun; dua tahun atau mungkin hanya berbulan-bulan, aku tidak tahu. Kalau memang kamu pernah disakiti wanita, jangan kamu balas dengan melakukan hal yang sama kepada orang lain. Karma does exist, but not in your hand.
Selamat tinggal, Do. Senang sempat bisa mengenalmu. Sampai berjumpa di lain waktu :)
Komentar
Posting Komentar