Langsung ke konten utama

Jangan Kau Sesali Apa Yang Terjadi Hari Ini

Menyesal, suatu kata yang terkadang dapat menyesakkan dada.
Setiap orang bisa saja merasa menyesal akan sesuatu hal, menyesal karena telah melakukan apa yang seharusnya tidak kita lakukan. Itu biasanya yang paling sering terjadi.
Banyak yang bilang bahwa penyesalan biasanya terjadi belakangan.
Faktanya memang seperti itu. Tapi apakah kalian tahu apa makna penyesalan itu sendiri?
Biar saya jelaskan sedikit.

Menyesal, berbeda dengan kecewa. Menyesal adalah perasaan gundah, disaat seseorang telah melangkahkan langkah yang salah ataupun tidak sama sekali melangkah dalam suatu kesempatan yang sebenarnya terbuka baginya.
Sedangkan kecewa adalah perasaan tidak puas akan suatu hal yang terjadi tidak berjalan semestinya sesuai dengan apa yang diharapkan.

Terkadang rasa penyesalan dapat menghambat kemajuan atau revolusi seseorang. Disaat seseorang jatuh atau istilah kerennya ngedrop akibat rasa penyesalan, disitulah orang itu merasa apa yang telah dilakukannya sia-sia dan tak berarti. Disinilah hal yang dapat menghambat kemajuan seseorang, ia akan malu dan ragu untuk melakukan hal yang baru (revolusioner), padahal tak selamanya kesalahan adalah akhir dari suatu cerita.

Ada satu solusi, semoga bisa membantu teman-teman yang membaca artikel ini untuk mengatasi rasa menyesal yang dapat menghambat kemajuan kalian.
Satu kalimat saja, yaitu:

"Jangan kau sesali apa yang terjadi hari ini jika masih ada hari esok!"


Jika kalian percaya bahwa hari esok masih akan tiba, dan mentari masih akan tunjukkan sinarnya, untuk apa menyesal? Itu hanya akan jadi batu sandungan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terakhir deh ini (ruwet banget isi kepala w)

Ternyata cerita kita ini sampai pada akhirnya juga ya.  Walaupun bukan akhir seperti yang kita rencanakan di awal, tapi semoga sudah sesuai dengan yang kamu inginkan.  Sesuai kata-kata pisahmu waktu itu, yang tidak memberi aku pilihan jawaban, buat aku harus mengiyakan.  Sampai hari ini aku masih bertanya-tanya, ini salah siapa ya? Semua ini bisa saja memang benar salahmu, atau salahku? Atau salah kita? Iya, salahmu. Kamu yang bilang sendiri, ingin semua ini jadi serius.  Aku bilang, kita coba dulu pacaran, kenal juga baru kan?  Kamu yang bilang sendiri, oh sudah siap, sudah yakin sekali pokoknya dengan alasan ini itu. Kamu tahu kan, aku si hobi banyak mikir ini tidak semudah itu bisa percaya.  Tapi, kamu mulai cerita tentang hidupmu yang katamu ini belum banyak yang tahu.  Kamu yang bilang sendiri, kalau aku bisa terima itu semua, kita bisa lanjutkan cerita.  Kamu tahu kan aku bisa terima? Jujur saja sejak itu aku pikir, oh mungkin kali ini bena...

RASA by Nuril Basri (Nyoba Review)

  Aku merasa seperti seorang gadis tua. Seorang gadis berumur 29 tahun yang tidak mengerti apa pun tentang dirinya yang tidak tahu apa yang diinginkannya dalam hidup ini. Aku sebuah bola besar yang menggelinding kebingungan. * Buku ini aku dapat dari giveaway  yang penulisnya buat di twitter tahun 2019. Jujur (dan sorry) aku sebenarnya tidak pernah tahu Nuril Basri. Memang pengetahuanku akan penulis juga kurang, karena buatku membaca seringnya hanya tentang cerita dan isinya. Jadi, seharusnya sih review ini terlihat cukup jujur. Pada cover buku ini tercantum kutipan menarik dari British Council " One of five Indonesian authors to read now " yang agak meningkatkan ekspektasiku. Ditambah lagi, tercantum juga bahwa beberapa karya dari penulis ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Malaysia dan Inggris, membuatku tambah penasaran. Di tahun 2019, setelah membaca halaman-halaman awal, aku merasa kurang motivasi untuk melanjutkan. Aku merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal, tap...

dua-lima

Tiba dimasa hidup bukan lagi tentang angka-angka di atas kertas. Bukan tentang siapa yang menang dari siapa, Tapi menyadari bahwa adanya makna, Pada setiap langkah dipijak, Pada setiap jalan dipilih. Merasa tercekat saat ditinggal orang-orang dekat. Sadari hidup sudah berputar pada porosnya masing-masing. Kesamaan tinggalah wacana basi di tahun-tahun lalu. Kamu punya waktumu sendiri, katanya.  Tapi sepi tetaplah sepi. Perasaan sedih seperti tertinggal bis dibelakang, kadang terasa nyata. Tapi, sebagai orang yang "dewasa", semua harus terlihat baik-baik saja. Banyak mimpi lama juga harus diganti realita. Berharap semoga masih ada peluang, barang setitik (.) Tapi semakin lama ternyata semakin hilang. Tanpa arah, terseok merakit mimpi baru yang "semoga" lebih nyata. Yakini, Kamu pasti bisa berdiri sendiri. Orang-orang bisa jadi sedang sibuk dengan dunianya sendiri,  Jadi, tidak akan mengerti kamu lagi. Ketika lelah "mencari", baiknya mungkin mulai "menja...