Langsung ke konten utama

seminggu ini.

minggu ini sangat.....berat -_- tugas numpuk puk puk puk, ulangan, udara gak bagus-panas,ujan,panas,ujan-dan finally gua jadi kena flu. udah idung pesek, mampet lagi, tambah gak bisa napas gua #okeinigakadahubunganyasamaidungpesek. hari senin sama selasa gua abis dikatain, diledekin, digodain sama temen gua *lirik ied* dari pas upacara yang gua aja gak sadar kalo sebarisan itu ternyata ada......-_- jadi ceritanya begini.. gua kan baris seperti biasa ya, samping gue ied. eh tiba-tiba si ied nyadar sesuatu gitu. anjir samping kiri gue....samping kanan ied....-___- udahdeh ied puas tuh ngeledekin gua-_- neraka apa surga gin? astagfirulloh ied parah-_- :p terus pas pelajaran terakhir-b.indo-salman sama wisnu duduk dibelakang gua. udahdeh itu tambah parah si ied sama wisnu ngatain guenya -_- didepan orangnya pula! gua cuma bisa bilang 'engga nu engga, salmankan udah sama fira' -______- pas besoknya, tiba-tiba wisnu sama renato berdiri didepan terus.. wisnu: 'saya! hidung megar!' renato: 'saya! jidat lebar!' 'kami jidung!' bngst itu ngatain gua -_- emang jidat gua lebar yah? engga kan? #gaksadardiri. terus pas fisika, gua salah senyum!!! gua senyum disaat gak tepat -_- salman kira gua senyum sama denis-pas gua senyum ada denis didepan pintu-alhasil gua malah dikatain lagi-_- salman: 'weh gina lu milih denis apa kak yunan? konsisten dong lu' gue: '-__-' wisnu ikut-ikutan lagi 'gin elu milih denis? ka yunan? apa taqy? apa salman?' -___- ied: 'apa kak fahmi?' -______________________- gue mah ketawa aje daaah~ hari-hari berikutnya, eh kok gue ngerasa deket 'lagi' ya..................tu orang jadi baik lagi sama gue....wew. semoga 'rasa' itu gak muncul lagi u..u

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RASA by Nuril Basri (Nyoba Review)

  Aku merasa seperti seorang gadis tua. Seorang gadis berumur 29 tahun yang tidak mengerti apa pun tentang dirinya yang tidak tahu apa yang diinginkannya dalam hidup ini. Aku sebuah bola besar yang menggelinding kebingungan. * Buku ini aku dapat dari giveaway  yang penulisnya buat di twitter tahun 2019. Jujur (dan sorry) aku sebenarnya tidak pernah tahu Nuril Basri. Memang pengetahuanku akan penulis juga kurang, karena buatku membaca seringnya hanya tentang cerita dan isinya. Jadi, seharusnya sih review ini terlihat cukup jujur. Pada cover buku ini tercantum kutipan menarik dari British Council " One of five Indonesian authors to read now " yang agak meningkatkan ekspektasiku. Ditambah lagi, tercantum juga bahwa beberapa karya dari penulis ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Malaysia dan Inggris, membuatku tambah penasaran. Di tahun 2019, setelah membaca halaman-halaman awal, aku merasa kurang motivasi untuk melanjutkan. Aku merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal, tap...

Terakhir deh ini (ruwet banget isi kepala w)

Ternyata cerita kita ini sampai pada akhirnya juga ya.  Walaupun bukan akhir seperti yang kita rencanakan di awal, tapi semoga sudah sesuai dengan yang kamu inginkan.  Sesuai kata-kata pisahmu waktu itu, yang tidak memberi aku pilihan jawaban, buat aku harus mengiyakan.  Sampai hari ini aku masih bertanya-tanya, ini salah siapa ya? Semua ini bisa saja memang benar salahmu, atau salahku? Atau salah kita? Iya, salahmu. Kamu yang bilang sendiri, ingin semua ini jadi serius.  Aku bilang, kita coba dulu pacaran, kenal juga baru kan?  Kamu yang bilang sendiri, oh sudah siap, sudah yakin sekali pokoknya dengan alasan ini itu. Kamu tahu kan, aku si hobi banyak mikir ini tidak semudah itu bisa percaya.  Tapi, kamu mulai cerita tentang hidupmu yang katamu ini belum banyak yang tahu.  Kamu yang bilang sendiri, kalau aku bisa terima itu semua, kita bisa lanjutkan cerita.  Kamu tahu kan aku bisa terima? Jujur saja sejak itu aku pikir, oh mungkin kali ini bena...

Mengurai pikiran

Hari ini, 10 Mei 2020, di rumah, ditengah pandemik covid-19 Selama dua bulan dirumah aja karena pandemik ini membuat aku lebih banyak berpikir, lebih banyak khawatir. Aku menemukan diri sendiri yang sudah hampir berumur 25 tahun ini masih banyak kekurangan yang tidak bisa ditoleransi lagi. Semakin insecure pada diri sendiri, secara fisik, sifat, bahkan sikap/attitude. Diumur setua ini, aku merasa sulit dalam mengambil keputusan. Bahkan, keputusan kecil seperti membeli barang di e-commerce pun mikirnya bisa berhari-hari. Seringnya juga malah gak jadi. Apalagi masalah jalan hidup. Pusingnya udah kayak mau sidang skripsi setiap hari. Rasanya takut. Takut memulai,  Takut dengan konsekuensi di depan, Takut menghadapi orang, Takut salah. Memang dari kecil sudah dikesankan bahwa "salah" itu gak boleh. Gak bisa ada kesalahan. Salah jawab saat ujian, belajar yang benar, jangan tolol. Itu yang selalu dipikiranku. Walaupun sekarang sudah dijelaskan "salah itu waj...