Langsung ke konten utama

mimpi aneh,,,,aneh mimpi ---"

EH TAU GAK, MASA #lebay udah dua kali gua mimpiin si rengga-_- pasti lu semua mikirnya ini biasa aja yee kaan secara gitu rengga itu kan sahabat gua jadi wajar-wajar aja~ tapi jadi gak wajar kalo di mimpinya itu dia...gue..oh tidaaak-_- udah dua kali lagi mimpinya oMGeh-_-" mautaugak?mautaugak?mautaugak? oke............. mimpi yang pertama, plis jangan pada ketawa ya (terutama iedwinadifanandahartono;p) jadi mimpinya gini loh anak-anak(?)  gue lagi duduk dilantai putih halaman gue (taukan?taulaaaaaah), terus tiba-tiba ada motor markir didepan pager, pas gua liat ternyata rengga-_- terus dia buka pager terus nyamperin gua terus........meluk gua (OH NO!) dan guenya juga malah meluk dia ._. terus dia bilang 'gue sayang sama lu gin' (ASTAGA) abis itu langsung gua lepas terus gua bilang 'gak bisa lah reng, kita ini sahabat, genggong' udah deh abis itu gua kebangun~~~ mimpi yang aneh kaaaaaaaaaaan -____________-" oke berlanjut mimpi yang kedua~ jadi pas itu kan emang siangnya gua abis maen kan ulangtahun wiwid terus makan di sms terus pulangnya gua dibonceng dwire...eh pas malemnya masa gua mimpi.....jadi pas mau pulang dari sms kan gua udah dibonceng dwire tuh terus tiba-tiba si rengga ngomong 'udah lu sama gua aja' yaudah gua pulangnya dibonceng dia deh.............hadeh---"
gua bingung kenapa gua bisa mimpiin dia sampe dua kali gitu-_- padahal mikirin dia aja gua gak pernah---" aneeeeeeeeeeeeeh ! mana pas dimimpi itu gua ngerasa nyaman banget lagi dideket dia oh tidaaaaaaak-_-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RASA by Nuril Basri (Nyoba Review)

  Aku merasa seperti seorang gadis tua. Seorang gadis berumur 29 tahun yang tidak mengerti apa pun tentang dirinya yang tidak tahu apa yang diinginkannya dalam hidup ini. Aku sebuah bola besar yang menggelinding kebingungan. * Buku ini aku dapat dari giveaway  yang penulisnya buat di twitter tahun 2019. Jujur (dan sorry) aku sebenarnya tidak pernah tahu Nuril Basri. Memang pengetahuanku akan penulis juga kurang, karena buatku membaca seringnya hanya tentang cerita dan isinya. Jadi, seharusnya sih review ini terlihat cukup jujur. Pada cover buku ini tercantum kutipan menarik dari British Council " One of five Indonesian authors to read now " yang agak meningkatkan ekspektasiku. Ditambah lagi, tercantum juga bahwa beberapa karya dari penulis ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Malaysia dan Inggris, membuatku tambah penasaran. Di tahun 2019, setelah membaca halaman-halaman awal, aku merasa kurang motivasi untuk melanjutkan. Aku merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal, tap...

Terakhir deh ini (ruwet banget isi kepala w)

Ternyata cerita kita ini sampai pada akhirnya juga ya.  Walaupun bukan akhir seperti yang kita rencanakan di awal, tapi semoga sudah sesuai dengan yang kamu inginkan.  Sesuai kata-kata pisahmu waktu itu, yang tidak memberi aku pilihan jawaban, buat aku harus mengiyakan.  Sampai hari ini aku masih bertanya-tanya, ini salah siapa ya? Semua ini bisa saja memang benar salahmu, atau salahku? Atau salah kita? Iya, salahmu. Kamu yang bilang sendiri, ingin semua ini jadi serius.  Aku bilang, kita coba dulu pacaran, kenal juga baru kan?  Kamu yang bilang sendiri, oh sudah siap, sudah yakin sekali pokoknya dengan alasan ini itu. Kamu tahu kan, aku si hobi banyak mikir ini tidak semudah itu bisa percaya.  Tapi, kamu mulai cerita tentang hidupmu yang katamu ini belum banyak yang tahu.  Kamu yang bilang sendiri, kalau aku bisa terima itu semua, kita bisa lanjutkan cerita.  Kamu tahu kan aku bisa terima? Jujur saja sejak itu aku pikir, oh mungkin kali ini bena...

Mengurai pikiran

Hari ini, 10 Mei 2020, di rumah, ditengah pandemik covid-19 Selama dua bulan dirumah aja karena pandemik ini membuat aku lebih banyak berpikir, lebih banyak khawatir. Aku menemukan diri sendiri yang sudah hampir berumur 25 tahun ini masih banyak kekurangan yang tidak bisa ditoleransi lagi. Semakin insecure pada diri sendiri, secara fisik, sifat, bahkan sikap/attitude. Diumur setua ini, aku merasa sulit dalam mengambil keputusan. Bahkan, keputusan kecil seperti membeli barang di e-commerce pun mikirnya bisa berhari-hari. Seringnya juga malah gak jadi. Apalagi masalah jalan hidup. Pusingnya udah kayak mau sidang skripsi setiap hari. Rasanya takut. Takut memulai,  Takut dengan konsekuensi di depan, Takut menghadapi orang, Takut salah. Memang dari kecil sudah dikesankan bahwa "salah" itu gak boleh. Gak bisa ada kesalahan. Salah jawab saat ujian, belajar yang benar, jangan tolol. Itu yang selalu dipikiranku. Walaupun sekarang sudah dijelaskan "salah itu waj...