Langsung ke konten utama

hujan

baru kali ini gua benci sama hujan-_- dari dulu tuh gua suka banget sama hujan~ dulu hujan bisa bikin gua seneng~ tapi hari ini kenapa engga yah-_- oke sekarang gua baru aja pulang dari rumah deni-temensmpgue dia ulang tahun.. pulangnya gue jalan kaki dan keujanan-_- pulangnya ber 5 gue pera tiwi rijal dimas. pera jalan bareng rijal, tiwi bareng dimas, gue ? bareng angin kali ye-_- sumpah gue envy banget, mana dingin lagi..ahsial! gua jalan aja sendirian ambil meluk diri sendiri, ngeliat tiwi sama dimas jalan di depan gue romantis coocweet-_- pera sama rijal awalnya jalan di belakang gue sih, tapi gara-gara sendal gue nih licin gue jadi jalannya lama, kesusul deh.. dan pemandangannya sama lah, mereka pegangan tangan-_-rangkul-rangkulan malah, demen dah ngeliatinnya~ gue jalan aja dibelakang mereka, gak pengen ngeliat tapi keliatan..yah-_- gua pengen teriak sebenernya, pengen bilang 'GUA ENVY WOY. BISA GAK, GAK PACARAN DI DEPAN GUA' gua pengen aaaaaaaaaaa T.T tapi mana ada yah yang mau sama gua~sadardiriwoygin. pas lagi jalan gitu gua ngebayangin tiba-tiba tu orang lari ngejar gue, nyamperin gue terus jaketnya di taro diatas kepala gue biar gak kena air hujan terus bilang 'jangan ujan-ujanan dong' aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa NGAYAL ABIS, GAK MUNGKIN laaah yee kaaaaaaaaaaaaan ? -__-" sepanjang jalan muka gue melas banget, lemes coy-_- bener aje , sekarang kepala gua puyeng kelenyeng-kelenyeng-_- gua kalo ngumpul sama temen smp jadi inget dulu, coba kalo gue masih.....hmm ceritanya bakal jadi kayak gini apa engga ya(cerita : gua kedinginan, keujanan, jalan sendirian).......hmm sekarang tanggal berapa ya hmm.............. hadeh gua udah gak kuat, puyeng~~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RASA by Nuril Basri (Nyoba Review)

  Aku merasa seperti seorang gadis tua. Seorang gadis berumur 29 tahun yang tidak mengerti apa pun tentang dirinya yang tidak tahu apa yang diinginkannya dalam hidup ini. Aku sebuah bola besar yang menggelinding kebingungan. * Buku ini aku dapat dari giveaway  yang penulisnya buat di twitter tahun 2019. Jujur (dan sorry) aku sebenarnya tidak pernah tahu Nuril Basri. Memang pengetahuanku akan penulis juga kurang, karena buatku membaca seringnya hanya tentang cerita dan isinya. Jadi, seharusnya sih review ini terlihat cukup jujur. Pada cover buku ini tercantum kutipan menarik dari British Council " One of five Indonesian authors to read now " yang agak meningkatkan ekspektasiku. Ditambah lagi, tercantum juga bahwa beberapa karya dari penulis ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Malaysia dan Inggris, membuatku tambah penasaran. Di tahun 2019, setelah membaca halaman-halaman awal, aku merasa kurang motivasi untuk melanjutkan. Aku merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal, tap...

dua-lima

Tiba dimasa hidup bukan lagi tentang angka-angka di atas kertas. Bukan tentang siapa yang menang dari siapa, Tapi menyadari bahwa adanya makna, Pada setiap langkah dipijak, Pada setiap jalan dipilih. Merasa tercekat saat ditinggal orang-orang dekat. Sadari hidup sudah berputar pada porosnya masing-masing. Kesamaan tinggalah wacana basi di tahun-tahun lalu. Kamu punya waktumu sendiri, katanya.  Tapi sepi tetaplah sepi. Perasaan sedih seperti tertinggal bis dibelakang, kadang terasa nyata. Tapi, sebagai orang yang "dewasa", semua harus terlihat baik-baik saja. Banyak mimpi lama juga harus diganti realita. Berharap semoga masih ada peluang, barang setitik (.) Tapi semakin lama ternyata semakin hilang. Tanpa arah, terseok merakit mimpi baru yang "semoga" lebih nyata. Yakini, Kamu pasti bisa berdiri sendiri. Orang-orang bisa jadi sedang sibuk dengan dunianya sendiri,  Jadi, tidak akan mengerti kamu lagi. Ketika lelah "mencari", baiknya mungkin mulai "menja...

Mengurai pikiran

Hari ini, 10 Mei 2020, di rumah, ditengah pandemik covid-19 Selama dua bulan dirumah aja karena pandemik ini membuat aku lebih banyak berpikir, lebih banyak khawatir. Aku menemukan diri sendiri yang sudah hampir berumur 25 tahun ini masih banyak kekurangan yang tidak bisa ditoleransi lagi. Semakin insecure pada diri sendiri, secara fisik, sifat, bahkan sikap/attitude. Diumur setua ini, aku merasa sulit dalam mengambil keputusan. Bahkan, keputusan kecil seperti membeli barang di e-commerce pun mikirnya bisa berhari-hari. Seringnya juga malah gak jadi. Apalagi masalah jalan hidup. Pusingnya udah kayak mau sidang skripsi setiap hari. Rasanya takut. Takut memulai,  Takut dengan konsekuensi di depan, Takut menghadapi orang, Takut salah. Memang dari kecil sudah dikesankan bahwa "salah" itu gak boleh. Gak bisa ada kesalahan. Salah jawab saat ujian, belajar yang benar, jangan tolol. Itu yang selalu dipikiranku. Walaupun sekarang sudah dijelaskan "salah itu waj...