Langsung ke konten utama

Kelas 9.3

Kalo gue bilang kelas yang satu ini tuh : ngeselin , nyebelin , ribet , maksud , amit-amit dah pokoknya (parah lu gin). Udah mah kotor (jelaslah gak pernah di sapu), anak-anaknya gak jelas , gak bisa diem semua . ribut mulu! Jujur, kasian gua ngeliat guru yang ngajar di sini. Gua berharap gak pernah dapet kelas kayak gini.
but , in FACT .. this is MY CLASSROOM
kadang gue berfikir , is it a nightmare ? kalopun iya , apa yg gue bisa lakuin ? demo ke kepala sekolah buat minta ganti kelas ? gak mungkin banget !
Gua coba buat beradaptasi . Gak sulit sih sebenernya , karena orang-orangnya masih sama kaya pas kelas 8 (kelas yang mungkin bakal gua lupain) .
Dan ternyata , gak seburuk yang gua fikir .. kelas ini sangat menyenangkan .. banyak kejadian seru disini , dari mulai persahabatan , percintaan (?) , permusuhan , perselisihan , dll.
Mau tau orang-orangnya ?

They are my besties . Bukannya olahraga malah foto-foto hahaha


Anak GAHOEL 9.3 nih ,

 Ini dia orang-orang yang kerjanya pacaran mulu di kelas. Kalo lagi mesra-mesranya bikin anak-anak ngiri (kecuali gue, sama sekali gak minat). Tapi kalo lagi berantem , beuh mending gak usah deket-deket deh.


Okey , itu sedikit foto-foto anak 9.3 .. Gimana menurut lo ?
At least , sekarang gua udah bakal jarang ketemu mereka lagi . I already passed the exam and must out from this class . Perasaan gue sekarang ? seneng, sedih, gak rela, ngerasa kehilangan, kangen, hah campur aduk deh ! Dan hal yang paling gue benci adalah gue harus mengakui bahwa gue gak rela harus berpisah dari kelas ini. Banyak kenangan yang bakal susah gue lupain .Sumpah , selama gue bersekolah d SMPN12 ini , kelas paling asik itu kelas 9. Hari-hari gue penuh dengan sekolah, les, pengayaan, soal, ulangan. Pusing sih, tapi asiiiiiik ! haha

dan inilah kenangan terindah di 9.3 bagi gue :')
Udah yah , cukup segini aja cerita gue tentang kelas 9.3 ,
Satu kata terakhir , I MISS YOU , guys ! :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RASA by Nuril Basri (Nyoba Review)

  Aku merasa seperti seorang gadis tua. Seorang gadis berumur 29 tahun yang tidak mengerti apa pun tentang dirinya yang tidak tahu apa yang diinginkannya dalam hidup ini. Aku sebuah bola besar yang menggelinding kebingungan. * Buku ini aku dapat dari giveaway  yang penulisnya buat di twitter tahun 2019. Jujur (dan sorry) aku sebenarnya tidak pernah tahu Nuril Basri. Memang pengetahuanku akan penulis juga kurang, karena buatku membaca seringnya hanya tentang cerita dan isinya. Jadi, seharusnya sih review ini terlihat cukup jujur. Pada cover buku ini tercantum kutipan menarik dari British Council " One of five Indonesian authors to read now " yang agak meningkatkan ekspektasiku. Ditambah lagi, tercantum juga bahwa beberapa karya dari penulis ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Malaysia dan Inggris, membuatku tambah penasaran. Di tahun 2019, setelah membaca halaman-halaman awal, aku merasa kurang motivasi untuk melanjutkan. Aku merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal, tap...

dua-lima

Tiba dimasa hidup bukan lagi tentang angka-angka di atas kertas. Bukan tentang siapa yang menang dari siapa, Tapi menyadari bahwa adanya makna, Pada setiap langkah dipijak, Pada setiap jalan dipilih. Merasa tercekat saat ditinggal orang-orang dekat. Sadari hidup sudah berputar pada porosnya masing-masing. Kesamaan tinggalah wacana basi di tahun-tahun lalu. Kamu punya waktumu sendiri, katanya.  Tapi sepi tetaplah sepi. Perasaan sedih seperti tertinggal bis dibelakang, kadang terasa nyata. Tapi, sebagai orang yang "dewasa", semua harus terlihat baik-baik saja. Banyak mimpi lama juga harus diganti realita. Berharap semoga masih ada peluang, barang setitik (.) Tapi semakin lama ternyata semakin hilang. Tanpa arah, terseok merakit mimpi baru yang "semoga" lebih nyata. Yakini, Kamu pasti bisa berdiri sendiri. Orang-orang bisa jadi sedang sibuk dengan dunianya sendiri,  Jadi, tidak akan mengerti kamu lagi. Ketika lelah "mencari", baiknya mungkin mulai "menja...

Mengurai pikiran

Hari ini, 10 Mei 2020, di rumah, ditengah pandemik covid-19 Selama dua bulan dirumah aja karena pandemik ini membuat aku lebih banyak berpikir, lebih banyak khawatir. Aku menemukan diri sendiri yang sudah hampir berumur 25 tahun ini masih banyak kekurangan yang tidak bisa ditoleransi lagi. Semakin insecure pada diri sendiri, secara fisik, sifat, bahkan sikap/attitude. Diumur setua ini, aku merasa sulit dalam mengambil keputusan. Bahkan, keputusan kecil seperti membeli barang di e-commerce pun mikirnya bisa berhari-hari. Seringnya juga malah gak jadi. Apalagi masalah jalan hidup. Pusingnya udah kayak mau sidang skripsi setiap hari. Rasanya takut. Takut memulai,  Takut dengan konsekuensi di depan, Takut menghadapi orang, Takut salah. Memang dari kecil sudah dikesankan bahwa "salah" itu gak boleh. Gak bisa ada kesalahan. Salah jawab saat ujian, belajar yang benar, jangan tolol. Itu yang selalu dipikiranku. Walaupun sekarang sudah dijelaskan "salah itu waj...